Kamis, 03 Mei 2018

HARDIKNAS SATGAS YONIF 121/MK MENJADI GURU SUKARELAWAN DI SEKOLAH PEDALAMAN PAPUA

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang selalu diperingati setiap tahunnya ditetapkan pemerintah Indonesia jatuh pada tanggal 2 Mei. Bukan karena tidak beralasan tanggal 2 Mei tersebut merupakan tanggal kelahiran Ki Hadjar Dewantara yang merupakan pahlawan yang berjasa besar dalam dunia pendidikan di tanah air. Ki Hadjar Dewantara lahir Yogyakarta tepatnta tanggal 2 Mei 1889. Atas jasa-jasanya di dunia pendidikan maka pada tahun 1959 pemerintah Indonesia menganugrahkan kepada beliau gelar Bapak Pendidikan Nasional.

Diawali oleh perjuangan Ki Hadjar Dewantara yang mendirikan Perguruan Taman Siswa yang merupakan sebuah wadah yang memberikan kesempatan kepada penduduk pribumi Indonesia dari golongan biasa untuk dapat menerima pendidikan yang sama dengan orang-orang dari golongan yang lebih terpandang pada saat itu. Oleh karena pada jaman penjajahan Belanda yang berhak untuk menikmati pendidikan adalah hanya orang-orang pribumi yang terpandang serta orang-orang Belanda saja.
Setelah beliau dibuang ke Pulau Bangka akibat dari tulisannya yang mengkritik pemerintahan Kolonial Belanda maka dengan bantuan dan permintaan Douwes Dekker dan Cipto Magoenkoesumo kepada pihak penguasa maka Ki Hadjar Dewantara dipindahkan ke Negeri Belanda. Ketika beliau kembali ke tanah air dari Belanda maka pada tanggal 3 Juli 1922 beliau mendirikan Perguruan Taman Siswa. Dimana Perguruan Taman Siswa ini merupakan suatu lembaga yang menjadi tolok ukur konsep pendidikan Nasional Indonesia.
Dengan demikian dengan tujuan untuk membantu sekolah-sekolah di daerah pedalaman Papua yang masih minim tenaga pendidiknya maka Satgas Yonif 121/MK yang merupakan Satuan Tugas penjaga perbatasan negara antara Indonesia dengan Papua Nugini telah menyiapkan diri untuk menjadi Guru Sukarelawan membantu sekolah-sekolah yang masih terbatas jumlah gurunya agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik.
Seperti halnya yang dilalakukan oleh 2 orang personel Satgas Yonif 121/MK yaitu Lettu Chk B. Karokaro dan Sertu Davidson Nainggolan yang mengajar bidang studi Matimatika di SD Inpres Wambes, SD YPPK Dunumamoy dan SMP YPPK Taruna Tegasa. Kedua prajurit tersebut telah membantu memberikan pelajaran Matimatika di 3 sekolah tersebut selama kurang lebih 2 bulan terakhir ini dikarenakan tenaga pendidiknya masih kurang. Untuk Lettu Chk Karokaro yang mengajar di 2 sekolah yaitu SD YPPK Dunumamoy dan SMP YPPK Taruna Tegasa yang berada di Distrik Arso Kabupaten Keerom Papua merasa senang dapat membrikan bantuan kepada anak-anak sekolah untuk memberikan pelajaran Matimatika di sekolah tersebut. Demikian halnya dengan Sertu Davidson Nainggolan yang mengajar di SD Inpres Wambes yang berada di Distrik Mannem Kabupaten Keerom Papua yang mengatakan bahwa untuk mengajar anak-anak SD mempunyai tantangan sendiri apalagi mengajarkan Matimatika.
“Mengajar anak SD itu apalagi bidang studi Matimatika pada awalnya sedikit mengalami kesulitan, namanya anak-anak SD mereka masih suka bercanda dengan teman-temannya pada saat kita memberikan pelajaran jadi kamipun juga mengajarkan matimatika dengan sedikit diselingi dengan candaan agar lebih gampang ditangkap oleh anak-anak didik”, demikian ungkap Nainggolan.
Para guru mengaku sangat tertolong dengan adanya prajurit Satgas Yonif 121/MK yang mau menjadi tenaga sukarelawan untuk mengajar di sekolah mereka, seperti yang dikatakan Kepala Sekolah SMP YPPK Taruna tegasa Monika Itu, S.Pd.
“Kami sangat terbantu dengan adanya bapak TNI yang mau dengan sukarela mengajar disekolah kami karena tanpa dibayar dan tidak mengeluh sehingga tenaga pendidik yang kurang dapat teratasi”, kata Monika.*
“Jadikan setiap tempat sebagai sekolah dan jadikan setiap orang sebagai guru”.- Ki Hadjar Dewantara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar